Oleh Amir Tengku Ramly.
Penerapan sisyem 'banking concept' didunia pendidikan selama 30 tahun yang lalu memberikan pengaruh buruk bagi kehidupan kebangsaan Indonesia hari ini. banyaknya korupsi, kolusi, mudah menipu dan suka berbohong merupakan penyakit mental yang merupakan bagian buruk dari 'dehumanisasi'. Poulo Freire yang meneliti pendidikan di Indonesia selama 30 tahun kekuasaan orde baru menuliskan dalam bukunya 'pendidikan kaum tertindas' bahwa dampak terbesar dari sistem pendidikan 'banking concept' tersebut adalah terjadinya dehumanisasi.
Dampak dan pengaruh dari pendidikan tersebut saya kira dapat kita rasakan pasca reformasi ini. Reformasi yang memberi kesempatan pada kekuatan 'publik' untuk menyuarakan kebenaran tidak memiliki kekuatan untuk merubah perilaku 'pelaku-pelaku' pembangunan yang merupakan produk dari sistem pendidikan 'banking concept' tersebut. Menjamurnya kasus korupsi dan kebohongan publik serta penyakit mental pejabat lainnya diantara kebaikan sistem 'reformasi' merupakan bukti bahwa produk (buah) pendidikan masa lalu memang melahirkan dehumanisasi dikalangan masyarakat, pemimpin dan para pejabat hari ini.
Menuju pada kehidupan yang lebih baik, yang bebas dari korupsi, menghilangkan mental pemimpin yang buruk maka mulai hari ini 'sekolah' harus mampu melepas diri dari sistem pendidikan 'banking concept' yang melahirkan generasi dehumanisasi. Sistem pengajaran bagaimana yang melahirkan 'humanisasi' dalam tatanan kehidupan kebangsaan? Jawabannya adalah pengajaran yang tetap 'memberdayakan hati' manusia.
Pengajaran setidaknya harus memberdayakan 4 kekuatan kecerdasan manusia, yaitu pancaindera, otak kiri, otak kanan dan hati manusia. system pendidikan 'banking concept' dalam proses pendidikannya fokus pada 'pancaindera dan otak kiri' saja. maka untuk menuju pada gerakan baru 'humanisasi' makan pendidikan harus menambah rana pembelajarannya yang juga mampu meberdayakan 'otak kanan dan hati' manusia.
Perubahan yang sedang dan akan dilakukan didunia pendidikan hari ini akan berdampak pada bangsa di 20 atau 30 tahun yang akan datang. Jika kita sangat menginginkan bangsa kita ini bebas dari korupsi, bebas dari nepotisme, sebaliknya memiliki aset SDM bangsa yang hebat, bermoral, bermental baik dan berpihak pada kepentingan rakyat tentu sekolah bisa mulai mempersiapkannya dengan sistem pendidikan yang bersumber dari pusat kecerdasan hati nurani dan otak kanan, yakni sistem pendidikan yang mengajar dari kedalaman cinta (biofili learning)














