You are here: Home

Refleksi Motivasi Pendidikan Ki Hajar Dewantara:

E-mail Print PDF

plc IndonesiaOleh: Amir Tengku Ramly (Penulis, Motivator & Konsultan Pendidikan PLC) disampaikan pada seminar nasional menyambut hari pendidikan nasional 2 mei 2010 di Palembang-Sumatera Selatan 6 mei 2010

Ki Hadjar Dewantara (Yogyakarta, 2 Mei 1899?26 April 1959) adalah seorang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, beliau mendirikan perguruan Taman Siswa yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Beliau wafat pada 2 Mei 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta. Tanggal lahirnya, 2 Mei, kemudian dijadikan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Beliau dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Nama beliau diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Selain itu, sampai saat ini perguruan Taman Siswa yang beliau dirikan masih ada dan telah memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi dan wajahnya bisa dilihat pada uang kertas pecahan Rp20.000.

Ki Hadjar yang bernama asli R.M. Suwardi Suryaningrat merupakan tokoh pendidikan nasional. Aktivitasnya dimulai sebagai jurnalis pada beberapa surat kabar dan bersama EFE Douwes Dekker, mengelola De Expres. Ki Hadjar pun aktif menjadi pengurus Boedi Oetomo dan Sarikat Islam. Selanjutnya bersama Cipto Mangun Kusumo dan EFE Douwes Dekker — dijuluki ”Tiga Serangkai” — ia mendirikan Indische Partij, sebuah organisasi politik pertama di Indonesia yang dengan tegas menuntut Indonesia merdeka. Pada zaman Jepang, peran Ki Hadjar tetap menonjol. Bersama Soekarno, Hatta, dan Mas Mansur, mereka dijuluki “Empat Serangkai”, memimpin organisasi Putera. Ketika merdeka, Ki Hadjar menjadi Menteri Pengajaran Pertama.

Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Yang pada intinya bahwa seorang pemimpin harus memiliki ketiga sifat tersebut agar dapat menjadi panutan bagi bawahan atau anak buahnya.

Ing Ngarso Sun Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi bawahan atau anak buahnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin adalah kata suri tauladan. Sebagai seorang pemimpin atau komandan harus memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam segala langkah dan tindakannya agar dapat menjadi panutan bagi anak buah atau bawahannya. Ing Madyo Mbangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seorang peminpin ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat kerja anggota bawahanya. Karena itu seorang pemimpin juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungan tugasnya dengan menciptakan suasana kerja yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan kerja. Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seorang komandan atau pimpinan harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh bawahan, karena paling tidak hal ini dapat menumbuhkan motivasi dan semangat kerja.

Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Dalam berbagai sumber tulisan tentang pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan harus dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan tentang mendidik itu sendiri. Menurut Kihajar dewantara mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia (humanisasi), yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Di dalam mendidik ada pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Jadi sesungguhnya pendidikan adalah usaha bangsa ini membawa manusia Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (humanis).

Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab di sinilah pendidikan memanusiawikan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya pendidikan yang mamanusiawikan manusia. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa.

Dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ada 2 hal yang harus dibedakan yaitu sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergis satu sama lain.  Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik).

Keinginan yang kuat dari Ki Hajar Dewantara untuk generasi bangsa ini dan mengingat pentingnya guru yang memiliki kelimpahan mentalitas, moralitas dan spiritualitas. Beliau sendiri untuk kepentingan mendidik, meneladani dan pendidikan generasi bangsa ini telah mengubah namanya dari ningratnya sebagai Raden Mas soewardi Suryaningrat menjadi Ki hajar dewantara. Menurut tulisan Theo Riyanto, perubahan nama tersebut dapat dimakna bahwa beliau ingin menunjukkan perubahan sikap ningratnya menjadi pendidik, yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria yaitu dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan Negara ini. Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan spiritualitas, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Yang utama sebagai pendidik adalah fungsinya sebagai model keteladanan dan sebagai fasilitator kelas.

Nama Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, keutamaan. Pendidik atau Sang Hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Modelnya adalah Kyai Semar (menjadi perantara antara Tuhan dan manusia, mewujudkan kehendak Tuhan di dunia ini). Sebagai pendidik yang merupakan perantara Tuhan maka guru sejati sebenarnya adalah berwatak pandita juga, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tuhan dan membawa keselamatan.

Menerjemahkan dari konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara tersebut, maka banyak pakar menyepakati bahwa pendidikan di Indonesia haruslah memiliki 3 Landasan filosofis, yaitu nasionalistik, universalistic dan spiritualistic. Nasionalistik maksudnya adalah budaya nasional, bangsa yang merdeka dan independen baik secara politis, ekonomis, maupun spiritual. Universal artinya berdasarkan pada hukum alam (natural law), segala sesuatu merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan. Prinsip dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam diri (hati) manusia. Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap individu hendaknya dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual; pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan; pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan; pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan harga diri; setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya.

Output pendidikan yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain. Dalam pemikiran kihajar dewantara, metode yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh. Metode ini secara teknik pengajaran meliputi ‘kepala, hati dan panca indera’ (educate the head, the heart, and the hand).

Menjadi guru Teladan yang Profesional Sebagai Motivator kelas

Teladan sesungguhnya memiliki makna sesuatu dari proses mengajar, hubungan dan interaksi selama proses pendidikan yang kemudian pada hari ini atau masa depan peserta didik menjadi contoh yang selalu di tiru dan di gugu. Jadi guru teladan tidak ada hubungannya dengan sosok guru yang senantiasa menjaga wibawa, menjaga ‘image’ dengan selalu menampilkan dirinya ‘ferfect’ dan ‘penuh aturan’ dan kaku di hadapan peserta didiknya.

Dalam sebuah proses belajar, sadar atau tidak maka ‘perilaku’ seorang guru akan menjadi komunikasi (penyampaian pesan) paling efektif dan pengaruhnya sangat besar (90%) pada peserta didik. Perilaku inilah yang akan menjadi ‘teladan’ bagi kehidupan social peserta didik. Secara psikologis pengaruh ‘perilaku’ tersebut adalah pengaruh bawah sadar peserta didik, yang akan muncul kembali saat ia melakukan aktifitas dalam ‘bersikap’, ‘bertindak’ atau ‘menilai sesuatu’ pada dirinya maupun orang lain.

Jika merefleksikan pada motivasi pendidikan Ki hajar Dewantara maka seorang guru yang ingin diteladani haruslah melepaskan ‘trompah’ dari jiwa, sikap, dan perilaku mengajarnya. Guru tidak berangkat dari ‘kepahlawanan’ untuk kemudian ‘mendidik’ tetapi dari mendidiklah kemudian dia layak menjadi ‘pahlawan’ pada hati setiap manusia lain.

Bagaimana agar ketadanan seorang guru berbuah hal yang baik pada jiwa, sikap dan perilaku peserta didiknya dimasa akan datang, maka seorang guru haruslah ‘profesional’ dalam pengajaran dan hubungan social. Bukan professional ‘to have’ tetapi professional ‘to be’. Bukan professional disebabkan kebendaan (materi) tetapi professional bersumber dari ‘penguasaan diri’, ‘pengabdian’ dan ‘kehormatan’ diri dan bangsanya. Sehingga dalam prosesnya ‘mengajar’ akan menjadi cara hidup seorang guru untuk mencapai kemanfaatan sebanyak-banyaknya melalui ‘pengabdiannya’ dan proses menebarkan ‘kehormatan’ tersebut pada hati, kepala dan pancaindera peserta didiknya.

Proses memindahkan segala’keteladanan diri’ pengetahuan diri dan perilaku professional seorang guru kepada peserta didik dibutuhkan teknik yang oleh Ki hajar dewantara disebuat ‘among’ mendidik dengan sikap asih, asah dan asuh, dibutuhkan guru yang tidak hanya mampu ‘mengajar’ tetapi juga mampu ‘mendidik’. Pada posisi inilah guru juga harus mampu menjadi motivator dikelasnya. Mengapa motivator? Karena Motivator memiliki kekuatan sinergis antara mengajar dan mendidik seperti motivasi dari pendidikan KiHajar itu sendiri.

Mengajar dengan Kekuatan Cahaya Hati

Pendidikan Kihajar Dewantara sangat mengedepankan ‘Humanisasi’ tetapi selama 32 tahun sejak orde baru kita telah mempraktekkan satu konsep pendidikan yang bermuara pada ‘dehumanisasi’. Inilah kenyataan paling pahit dalam negara yang mengagungkan hak asasi dan kemanusiaan yang adil dan beradap. Kenyataan 32 tahun bukan suatu keharusan sejarah, karenanya melalui kekuatan ‘moral’ kaum tertindas mempelopori gerakan anti dehumanisasi . Guru telah mengawali dengan aksi protes yang tidak akan pernah berakhir apabila ‘humanisasi’ belum menjadi gerakan pendidikan di era reformasi ini. Sistem pendidikan yang telah direkayasa telah menyebabkan terjadinya dehumanisasi yang oleh Freire disebut sebagai pendidikan gaya ‘bank’ (Banking Concept Of Education). Konsep pendidikan gaya ini mengkondisikan guru untuk memberikan pelajaran pada muridnya sebagai upaya melipatgandakan hasil (dengan menjadi robot-robot intelektual) bagi kepentingan penguasa. Pendidikan semacam ini menimbulkan kecintaan pada sesuatu yang tidak jelas, maka terjadilah banyak generasi yang ‘bingung’ dan lari pada kenyataan hidup yang tidak bermoral. Pendidikan semacam ini oleh Erich Fromm dalam the Heart of Man disebutkan sebagai penyebab terjadinya ‘ nekrofili’ (kecintaan terhadap sesuatu yang tidak berjiwa).

Output dari pendidikan kita selama 32 tahun paling jauh hanya akan merubah penafsiran seseorang terhadap situasi yang dihadapinya, tetapi tidak mampu mengubah realitas dirinya sendiri. Pendidikan gaya ‘bank’ hanya menghasilkan manusia Indonesia (generasi intelek) yang menjadi penonton dan peniru, sehingga mudah dipahami mengapa suatu hasil usaha atau bahkan revolusi yang pernah dialaminya dalam sejarah kebangsaan Indonesia, pada akhirnya hanyalah menggantikan simbol-simbol dan mitos-mitos yang lama dengan simbol-simbol atau mitos yang baru yang sebenarnya sama saja, bahkan terkadang jauh lebih buruk.

Jika kita hari ini ingin mengembalikan ‘motivasi’ pendidikan sesuai konsep ‘pandita satria’ Kihajar Dewantara, maka Kondisi pendidikan 32 tahun hingga hari ini mengharuskan adanya iktiar baik dalam bentuk aksi protes seperti yang dilakukan guru maupun sumbang pikir. Iktiar ini merupakan upaya memanusiakan kembali manusia (humanisasi) sebagai pilihan reformasi pendidikan di Indonesia. Dalam gerakan humanisasi melihat bahwa jika kenyataan menyimpang dari keharusan, maka menjadi tugas manusia untuk merubahnya sesuai dengan apa yang seharusnya. Inilah fitra manusia sejati yang kini tengah dipelopori ‘pahlawan tanpa jasa. Fitrah manusia sejati dalam proses pendidikan adalah menajdi pelaku atau subjek pembangunan bukan penderita atau objek pembangunan. Panggilan gerakan humanisasi sebagai keharusan dari pendidikan yang diperolehnya adalah menjadi pelaku yang sadar yang bertindak mengatasi serta menyadari realitas yang terjadi kepada keharusan sejarah. Gerakan humanisasi akan melahirkan pengajaran biofili’ yakni pengajaran yang mengalirkan udara kecintaan pada segala yang memiliki kehidupan. Teknik Biofili adalah teknik mengajar yang bersumber dari kekuatan cahaya hati seorang guru, yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran.


Selamat hari pendidikan 2 mei 2010. Salam humanis! Salam Sukses Bermakna

 

plc indonesia

plc Indonesia

Tes Talenta Kepribadian & Karakter Sukses

pumpingtalenta.com

Translate

Indonesian Arabic English

Agenda Pumping

Agenda Pebruari Maret 2012


7-9 Peb 12: Talent Mapping bakat potensi mahasiswa
10 Peb 12: Pumping Power Character & Team Building, Pusat Manajemen Mutu Kementrian Kelautan dan Perikanan, Grand jaya Raya Hotel Bogor
18 Peb 12: Pumping Teacher SMPN 1 Bogor
21-23 Peb 12: Consultancy Manajemen Talenta
24-25 Peb 12: Character & Team Building DPPK KKP RI Hotel Seruni Puncak
Maret 2012

3 Maret 12: Training Pumping Student sukses UN 2012 SMP Labschool Jakarta


Who's Online

We have 1 guest online

Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini94
mod_vvisit_counterBulan ini3019
mod_vvisit_counterBulan lalu5998
mod_vvisit_counterTotal134270

Link Info dan Berita

Web Link, Go!

PLC Indonesia

50 Tips Tindakan Ramah Lingkungan

article thumbnail

Sebenarnya kita tidak memerlukan perubahan yang radik [ ... ]


Menjadi Guru Bahagia

article thumbnail

Kebahagiaan seseorang sangat ditentukan oleh pikirannya [ ... ]


Tips kesehatan Kerja

Produktifitas dan performance kerja kita sangat dipenga [ ... ]


Tips Mengatasi Rasa malu

article thumbnail

Rasa malu mungkin muncul pada diri seseorang saat mengh [ ... ]


TOKO BUKU ONLINE PUMPING KLIK DISINI